Tuesday, July 21, 2015

Schweinsteiger, Schneiderlin, dan Sir Alex Ferguson yang Jarang Memperbaiki Lini Tengah

Senin, 13 Juli 2015. Di tengah hiruk pikuk berita dan rumor transfer pemain, semua mata tiba-tiba langsung tertuju kepada raksasa Inggris, Manchester United. Pada hari itu, The Red Devils merampungkan dua pembelian pemain yang keduanya merupakan gelandang. Bintang timnas Jerman Bastian Schweinsteiger, dan gelandang jangkar timnas Prancis, Morgan Schneiderlin secara resmi diperkenalkan sebagai pemain United, yang memboyongnya dari Bayern Munich dan Southampton. Mereka datang setelah United merekrut Memphis Depay dari PSV Eindhoven dan Matteo Darmian, pemain asal Torino.
Schweinsteiger berhasil ditebus dengan harga 14,4 juta Poundsterling, sementara Schneiderlin didapatkan setelah United membayar 24 juta Pounds, dan akan meningkat menjadi 27 juta Pounds (ditambah dengan add-ons pada kesepakatannya).

Morgan Schneiderlin dan Bastian Schweinsteiger saat diperkenalkan sebagai pemain Manchester United

Schweinsteiger merupakan ikon raksasa Jerman dari Bavaria, Bayern Munich. Selama 17 tahun dirinya mengabdi bersama Die Roten, dari pemain akademi hingga menjadi key-player di skuad utama. Schweini telah memenangi berbagai macam trofi bersama Bayern. Ia sudah meraih gelar juara kasta liga tertinggi di Jerman, Bundesliga selama delapan kali. Selain itu, Schweini telah mengangkat trofi DFB Pokal sebanyak tujuh kali, dan sekali merengkuh piala ajang paling bergengsi di Eropa, Champions League. Di timnas Jerman, gelandang yang lahir pada 1 Agustus 1984 ini menjadi motor lini tengah Der Panzer dan telah membawa negaranya menjadi juara dunia pada gelaran Piala Dunia 2014 di Brazil.
Schweini terkenal sebagai gelandang yang memiliki mobilitas yang tinggi, dibarengi dengan tenaga kuda dan energi yang seakan tak pernah habis. Selain itu, Fußballgott -julukan Schweini- juga terkenal dengan kemampuan passing yang baik, dapat membaca permainan dan mengatur tempo, serta mempunyai kemampuan mencetak gol dengan shooting jarak jauh yang keras dan positioning yang bagus. Schweini memiliki kemampuan yang sangat lengkap sebagai midfielder kelas dunia. Ia dianggap sebagai salah satu gelandang Jerman terbaik sepanjang masa.
Schweinsteiger telah merasakan kesuksesan menjadi juara dunia bersama Timnas Jerman

Sementara itu, Schneiderlin telah menjadi andalan utama Southampton sejak tahun 2008, saat ia masih berumur 18 tahun. Bersama The Saints, ia memulai karier di Inggris dari kasta Championship Division, dan bahkan semusim kemudian terdegradasi ke League One. Namun, dirinya bersama punggawa-punggawa Soton lainnya bahu-membahu mengangkat klub rival abadi Portsmouth itu, dan berhasil promosi ke Premier League musim 2012/2013. Di EPL, Schneiderlin menjadi salah satu andalan utama Soton dalam mengarungi kerasnya liga, dan membuat Soton menjadi salah satu tim kuda hitam dan sering menyulitkan tim-tim besar.
Schneiderlin merupakan gelandang jangkar yang memiliki kemampuan bertahan yang baik, seperti tackle, intercept, dan kemampuan membaca permainan lawan. Dirinya sangat mumpuni dalam berduel dengan gelandang dan striker lawan yang mencoba menyerang. Schneiderlin dipercaya dapat menjadi pengganti Michael Carrick yang mulai menua dan kerap diterjang masalah cedera.
Scheniderlin setelah mencetak gol saat menjamu United, musim 2012-2013

Kedatangan Schweinsteiger dan Schneiderlin memperkuat sektor gelandang tengah United, yang telah memiliki Michael Carrick, Marouane Fellaini, Ander Herrera, dan Daley Blind yang sering dimainkan di tengah. Louis van Gaal benar-benar serius ingin menambal lini tengah The Red Devils, yang akan bermain di banyak kompetisi di musim 2015/2016 dan sang meneer juga menargetkan untuk memenangi trofi bersama United.
Ander Herrera akan berusaha mempertahankan posisinya sebagai gelandang utama United

Berbicara tentang pembenahan sektor gelandang United, Van Gaal memang telah berusaha melakukannya. Musim 2014/2015 lalu saja, manajer yang terkenal dengan filosofinya ini sudah menambahkan Herrera dan Blind untuk mengisi slot gelandang tengah tim tersukses di liga Inggris tersebut. Melihat apa yang dilakukan Van Gaal dalam memperbaiki lini tengah United, saya langsung mengingat-ingat apa yang dilakukan Sir Alex Ferguson sejak musim 2007/2008 hingga pensiun musim 2012/2013. Ya, sadar atau tidak, Fergie jarang memperbaiki lini tengah The Red Devils.
Sir Alex Ferguson yang telah memberikan banyak trofi untuk United

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Di musim 2006/2007, Ferguson merekrut gelandang Inggris Michael Carrick dari Tottenham Hotspur dengan harga 18,6 juta Pounds, dan diproyeksikan sebagai gelandang pengganti kapten Roy Keane yang memutuskan hijrah. Semusim kemudian, manager asal Skotlandia ini memboyong dua orang gelandang, yaitu Anderson dari FC Porto dan Owen Hargreaves dari Bayern Munich.
Anderson, salah satu pembelian Fergie musim 2007/2008

Namun setelah musim-musim berikutnya, entah apa yang dipikirkan Fergie, ia sangat jarang membeli gelandang baru untuk memperkuat lini tengah, dari tahun 2008 hingga pensiun pada 2013. Dari tahun ke tahun tersebut, United hanya mengandalkan nama-nama yang sudah ada seperti Paul Scholes, Darren Fletcher, Michael Carrick, dan Anderson. Fergie juga beberapa kali mempromosikan pemain muda United ke skuad utama seperti Darron Gibson, Tom Cleverley, dan lainnya. Bahkan, pemain-pemain yang memiliki posisi asli bukan gelandang seperti Phil Jones, Park Ji-Sung, Ryan Giggs, dan Wayne Rooney kerap dimainkan di lini tengah.
Rooney, Giggs, dan Park yang kerap dijadikan gelandang oleh Fergie

Dari tiga pembelian gelandang yang dilakukan Fergie pada musim 2006/07 dan 2007/08, mungkin hanya Carrick saja yang tergolong sukses dan konsisten menjadi pemain andalan hingga sekarang. Sementara Anderson, setiap musim pada awalnya selalu digadang-gadang akan menjadi pemain penting. Namun seiring berjalannya musim, Anderson tetaplah tampil mengecewakan dan ujung-ujungnya menjadi penghangat bangku cadangan. Pada akhirnya ia dilepas Van Gaal ke Internacional, klub Brazil yang merupakan kampung halamannya. Hargreaves memiliki nasib yang lebih sial. Ia memiliki masalah yang serius dengan cederanya yang parah sehingga dalam empat tahun kariernya di United, ia hanya diturunkan selama 27 kali. Di tahun 2011 dirinya dilepas secara gratis oleh United.
Owen Hargreaves yang sangat akrab dengan cedera

Di tengah permasalahan pada lini tengah United, pada akhir musim 2011/2012 Fergie justru melepas Paul Pogba, gelandang muda potensial United ke Juventus secara gratis, karena tidak memperpanjang kontraknya. Fergie menyatakan ia memiliki masalah dengan Pogba karena sikap dan perilakunya, sementara Pogba berkilah bahwa ia tidak diberikan kesempatan oleh Fergie.
Pada saat melawan Blackburn Rovers di EPL pada 31 Desember 2011, Pogba menyatakan siap diturunkan kepada Fergie, dimana saat itu United dilanda badai cedera. Di pertandingan tersebut, Fergie malah menurunkan duet Park Ji-Sung dan Rafael (seorang bek kanan) di lini tengah. Hasilnya, United menyerah 2-3 pada The Rovers di kandang sendiri, di hari ulang tahun Fergie yang ke-70. Di tengah musim, alih-alih memanfaatkan Pogba, Fergie malah memanggil kembali Paul Scholes dari masa pensiunnya. Pogba pun geram dan pada akhir musim memutuskan hijrah ke Italia. Disana, bersama Juventus ia langsung memenangi Serie-A selama tiga musim beruturt-turut.
Paul Pogba, memiliki masalah dengan Fergie dan akhirnya hijrah ke Juventus

Sebenarnya, pada musim 2012/2013 yang menjadi musim terakhir Fergie, United membeli dua gelandang, yaitu pemain muda Inggris dari Crewe Alexandra Nick Powell dan bintang Borussia Dortmund dan timnas Jepang Shinji Kagawa. Namun Powell hanya digunakan sebagai pelapis dan lebih sering dipinjamkan ke klub-klub lain.
Sementara Kagawa sempat digadang-gadang sebagai the missing piece dalam skuad Fergie. Dirinya merupakan gelandang serang dengan visi bermain dan teknik yang bagus. Tetapi ia ditakdirkan tidak pernah bahagia di United. Bersama Fergie dan David Moyes, Kagawa yang biasa bermain di belakang striker kerap diturunkan sebagai pemain sayap. Tentu sang pemain asal Jepang tersebut tidak cocok dengan posisi barunya dan ia pun gagal mengeluarkan potensi terbaiknya untuk United. Pada akhirnya Kagawa hanya bertahan dua musim bersama United, dan dirinya memutuskan kembali ke Borussia Dortmund di awal musim 2014/2015.
Shinji Kagawa gagal mengeluarkan potensi terbaiknya bersama United

Ajaibnya, dari enam musim terakhirnya bersama United, Fergie berhasil merengkuh gelar juara EPL sebanyak empat kali, dengan stok gelandang yang "ala kadarnya". Namun, lini tengah United-pun menjadi bom waktu bagi penerusnya. Fergie mewariskan gelandang-gelandang "seadanya" kepada David Moyes, pengganti pertamanya pada musim 2013/2014.
Manajer yang direkrut dari Everton ini mungkin ingin memperbaiki lini tengah United, apalagi Paul Scholes telah pensiun. Namun, di sisi lain ia gagal di bursa transfer dengan hanya memboyong anak asuhnya di The Toffees Marouane Fellaini. Fellaini dan Moyes pun terseok-seok di United. Moyes akhirnya memboyong gelandang serang Chelsea, Juan Mata pada bursa transfer musim dingin. Tetapi pembelian Mata tersebut tidak serta merta menyelamatkan Moyes yang akhirnya dipecat oleh United sebelum musim 2013/14 berakhir. Pada musim itu, United memiliki Fellaini, Carrick, Fletcher, Kagawa, Cleverley, dan Anderson di lini tengah, serta gelandang "dadakan" Giggs dan Rooney.
David Moyes yang mendatangkan awan kelabu di United

Untungnya, permasalahan lini tengah United telah tercium oleh Louis Van Gaal. Sebagian gelandang-gelandang yang saat itu dimiliki The Red Devils dinilai olehnya tidak dapat djadikan andalan untuk bersaing lagi dengan tim-tim besar, dan tidak cocok dengan filosofinya. Cleverley, Anderson, Fletcher, dan Kagawa segera ditendang oleh mantan manajer klub Ajax, Barcelona, AZ Alkmaar dan Bayern Munich tersebut. Dengan nama besarnya sebagai manajer dan kemampuan melakukan transfer pemain yang baik, Van Gaal berhasil memboyong Herrera dan Blind di musim pertamanya, serta Schweinsteiger dan Schneiderlin pada musim keduanya. United juga masih memiliki playmaker kreatif Juan Mata yang memiliki kerjasama yang baik dengan Herrera, Fellaini yang tangguh dalam duel-duel bola atas, dan Carrick yang merupakan holding midfielder sekaligus deep-lying playmaker dan pengatur tempo permainan. Komposisi gelandang yang cukup lengkap.

Dari Cleverley ke Schweinsteiger



------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kebiasaan Sir Alex Ferguson setiap musim yang jarang memperbaiki sektor gelandang Manchester United menjadi bom waktu, karena tidak akan ada satu orangpun yang mampu menjuarai EPL dengan pemain-pemain seperti Tom Cleverley dan Anderson di lini tengah selain Fergie. Oleh karena itu, segera bersyukurlah bahwa Louis Van Gaal telah mendepak keduanya, dan menggantikannya dengan Bastian Schweinsteiger, seorang juara dunia yang telah meraih banyak trofi, dan Morgan Schneiderlin, gelandang jangkar tangguh.
Apakah gebrakan tersebut dapat memberikan trofi untuk United, kita tunggu saja pada musim 2015/2016. Yang jelas, Van Gaal sedang berusaha memperbaiki sektor gelandang United, sesuatu yang jarang dilakukan Fergie. Lini tengah The Red Devils saat ini terlihat lebih "berkelas" di bawah asuhan Van Gaal, dibandingkan saat dilatih Fergie.

Louis Van Gaal yang berhasil reuni dengan Bastian Schweinsteiger di Manchester United



Tuesday, July 14, 2015

Filosofi Louis Van Gaal di Manchester United.

Filosofi. Sebuah kata yang memiliki arti kurang lebih adalah pola berpikir manusia atau prinsip hidup yang dipegang teguh oleh manusia. Mungkin terkesan sangat kaku dalam bayangan kita, namun menurut sebagian orang, untuk apa hidup jika tanpa memegang filosofi. Hal tersebutlah yang membuat dunia menjadi lebih teratur dan indah, menurut mereka. Dalam sejarah, nama-nama seperti Sokrates, Plato, dan Aristoteles dari Yunani merupakan orang-orang yang terkenal akan pemikiran dan filosofi mereka.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Berbicara tentang filosofi pada sepakbola, mungkin pikiran kita akan tertuju kepada satu orang ini.
Louis Van Gaal dengan ekspresinya yang khas

Aloysius Paulus Maria Van Gaal, atau lebih dikenal dengan nama Louis Van Gaal. Orang yang memiliki wajah agak 'bengis' dan ekspresi yang terkesan mengintimidasi ini sering sekali menyebut-nyebut tentang filosofi bermain yang ia terapkan selama menjadi manajer, termasuk pada klub yang sekarang ditangani, Manchester United.

Sebelum diangkat menjadi manajer The Red Devils, Van Gaal merupakan pelatih yang cukup sukses dan disegani di dunia persepakbolaan Eropa dan dunia. Ia tercatat pernah melatih tim-tim raksasa seperti Ajax Amsterdam, Barcelona, dan Bayern Munich, dan berhasil memenangkan banyak gelar bersama mereka. Dengan Ajax, 3 gelar juara Eredivisie, dan sebuah trofi KNVB Cup, UEFA Cup, dan trofi paling bergengsi di Eropa, UEFA Champions League berhasil diraihnya. Di Spanyol, Van Gaal memimpin Barcelona memenangkan 2 gelar juara La Liga dan sebuah trofi Copa Del Rey. Saat mengadu nasib ke Jerman dengan menukangi Bayern Munich, pelatih kelahiran Amsterdam, 8 Agustus 1951 ini berhasil memberikan double winners di musim pertamanya, yaitu trofi Bundesliga dan DFB Pokal. Bahkan bersama AZ Alkmaar yang tidak terlalu diperhitungkan di Belanda, secara tidak terduga ia menggondol sebuah trofi Eredivisie.
Van Gaal mengangkat trofi Champions League bersama Ajax, 1995


Van Gaal pun tercatat pernah 2 kali menukangi tim nasional Belanda. Namun pada periode pertamanya (2000-2002), ia menorehkan sebuah noda bagi De Oranje. Van Gaal gagal meloloskan Belanda ke Piala Dunia 2002 di Jepang-Korea Selatan untuk pertama kalinya sejak tahun 1986. Ia mencoba menebus kegagalannya dengan kembali menahkodai Belanda pada tahun 2012 sampai 2014 menggantikan Bert Van Marwijk, yang gagal membawa Belanda lolos babak grup saat EURO 2012. Van Gaal langsung meloloskan Belanda ke Piala Dunia 2014 di Brazil. Sebenarnya Belanda tidak terlalu diunggulkan pada Piala Dunia, karena Van Gaal telah merombak skuad tua Belanda warisan Van Marwijk dengan muka-muka baru pilihannya. Diluar dugaan, Belanda menghajar juara bertahan Spanyol 5-1 pada babak grup, dan melaju ke Semifinal, sebelum kalah adu penalty dengan Argentina. Akhirnya, skuad asuhan Van Gaal mampu menduduki peringkat ketiga setelah mengalahkan tuan rumah Brazil 3-0.
Van Gaal merayakan gol pertama Robin van Persie, saat Belanda menghancurkan Spanyol 5-1

Selepas Piala Dunia 2014, Van Gaal langsung menuju Manchester untuk menandatangani kontak selama tiga tahun untuk melatih United, menggantikan David Moyes yang mengecewakan pada musim sebelumnya.
Van Gaal  bersama Ed Woodward, executive vice-chairman United

Selama menahkodai United, Van Gaal didampingi oleh legenda hidup The Red Devils, Ryan Giggs, yang menjabat sebagai asisten manajer baru sesaat setelah pensiun musim 2013-2014, dan membawa staff-staffnya sendiri yaitu Marcel Bout (pelatih tim utama dan opposition scout), Albert Stuivenberg (pelatih tim utama), dan Frans Hoek (pelatih kiper).
Louis Van Gaal bersama asistennya sekaligus legenda United, Ryan Giggs
Disinilah era baru dimulai. Para suporter Manchester United langsung menaruh harapan besar di pundak Van Gaal untuk dapat meraih prestasi bagi United dan mengulangi kejayaan yang telah diukir oleh manajer legendaris Sir Alex Ferguson.
Sir Alex Ferguson, pelatih legendaris yang telah mempersembahkan segudang trofi untuk United
Disisi lain, mereka harus mulai membiasakan dengan gaya melatih Van Gaal, yang merupakan manajer United pertama yang berasal dari luar Britania Raya dan Irlandia. Pelatih yang suka membawa buku catatan taktiknya selama pertandingan ini pun mulai menancapkan filosofinya ke dalam klub paling sukses di Inggris dengan 20 gelar Liga Inggris ini.
Van Gaal yang senang membawa buku catatan taktiknya
Mari kita bahas satu-persatu apa saja filosofi yang diterapkan Van Gaal di United


       1. Total Football ala Van Gaal (Penguasaan bola dan Pemain Versatile).

Belanda terkenal dengan ciri permainan khas mereka, Total Football. Pemain harus dapat memainkan bola dengan baik, mengatur tempo permainan, menjaga penguasaan bola, agresif dalam menyerang, mampu membuka ruang, dan mengisi beberapa posisi. Inilah yang Van Gaal inginkan kepada skuad Manchester United. Hal ini tercermin dari statistik ball-possession United yang sangat tinggi hampir di setiap match musim 2014-2015, dengan rata-rata mencapai 61%.
Bahkan saat kalah melawan Chelsea di kandang mereka, United mencatatkan 71% ball-possesion
Van Gaal menginginkan bek yang berperan bukan hanya sebagai seseorang yang bertanggung jawab menjaga pertahanan saja, tetapi juga mampu berperan sebagai ball-playing defender yang mampu menjaga possesion, dan menginisasi serangan awal dari belakang. Striker pun dituntut untuk lebih mobile, membuka ruang bagi pemain lain, dan mengirimkan umpan-umpan berbahaya kepada gelandang serang dan sayap yang maju kedepan. Gelandang di tengah harus memiliki inteligensia yang tinggi dalam berbagai aspek penyerangan (passing, pergerakan, dan lain-lain), serta mampu bertahan dan melakukan pressing saat lawan menguasai bola.
Gelandang seperti Ander Herrera (tengah) cocok untuk filosofi Van Gaal
Para pemain versatile atau dapat bermain di banyak posisi pun sangat disukai Van Gaal, karena pemain tersebut mampu memahami posisi selain posisi naturalnya, sehingga dinilai mampu membuka ruang ke posisi lain dengan lebih baik, dan dapat dipindahkan posisinya di tengah-tengah pertandingan atau dalam keadaan darurat. Pada musim perdananya, banyak pemain yang kerap diturunkan Van Gaal yang merupakan pemain versatile, contohnya:
  • Daley Blind mampu menjadi bek kiri dan gelandang bertahan.
  • Wayne Rooney, striker yang sering dimainkan sebagai gelandang.
  • Michael Carrick selain menjadi gelandang bertahan, juga kerap menjadi bek tengah.
  • Juan Mata dan Angel Di Maria, dapat berperan menjadi winger kiri, kanan, dan gelandang serang.
  • Marcos Rojo dan Tyler Blackett bisa diturunkan sebagai bek tengah atau full-back kiri.
  • Paddy McNair, seorang bek tengah yang pernah sesekali menjadi full-back kanan, juga mahir sebagai gelandang bertahan.
Van Gaal pun juga menemukan bahwa Antonio Valencia dan Ashley Young, yang notabene adalah winger kanan dan kiri, dapat bermain sebagai wing-back kanan dan kiri pada formasi 3-5-2.
Ashley Young, terlahir kembali
Pemain yang hanya mampu bermain pada satu posisi pun perlahan tersingkir, seperti Javier Hernandez dan Nani yang dipinjamkan ke Real Madrid dan Sporting Lisbon, serta Darren Fletcher dan Anderson yang dilepas ke West Brom dan Internacional.
Daley Blind sangat disukai Van Gaal


       2. Keras kepala dalam menentukan formasi (terkadang tidak berlaku)

Van Gaal adalah orang yang sangat teguh untuk memegang apa yang dianggapnya benar. Selama melatih, jarang sekali ia mengubah formasi yang ia anggap pas untuk menjalankan gaya bermainnya, walaupun terkadang dirinya mendapatkan kritik dari berbagai pihak, termasuk suporter. Mempertahankan formasi tanpa peduli akan gaya bermain lawan adalah ciri khas Van Gaal. Namun, di beberapa momen pada musim 2014-2015 bersama United, Van Gaal terkadang mengubah formasi, hal yang bukan menjadi kebiasaannya. Berikut momen-momen pergantian formasi tersebut:
  • United memainkan 3-5-2 dari pra-musim hingga beberapa pertandingan awal EPL. Tetapi, pada tiga pertandingan awal EPL The Red Devils gagal meraih kemenangan (kalah 1-2 dari Swansea, ditahan imbang 1-1 dan 0-0 melawan Sunderland dan Burnley). Van Gaal pun mengubah formasi dari 3-5-2 menjadi 4-4-2 diamond saat melawan QPR di Old Trafford. United akhirnya mampu tampil atraktif dan menang 4-0.
4-4-2 diamond.
  • Arsenal menunggu kedatangan United di Emirates. United sedang mengalami badai cedera, sehingga memaksa Van Gaal untuk kembali memainkan formasi 3-5-2 demi mengakomodir ketersediaan skuad yang terbatas. Pada pertandingan tersebut ternyata United mampu memukul Arsenal 2-1. Selanjutnya, formasi 3-5-2 terus menerus dipakai hingga awal paruh kedua musim 2014-2015, yang menghasilkan 10 pertandingan tanpa kekalahan. Oleh beberapa pihak, ia pun mulai dianggap kaku dengan terus-menerus mempertahankan formasi ini.
3-5-2
  • Akhirnya Van Gaal dapat luluh juga. Formasi 3-5-2 dianggap oleh para suporter dan pengamat sepakbola seperti legenda United, Gary Neville dan Paul Scholes, sebagai formasi yang tidak cocok untuk The Red Devils. Mereka menganggap formasi tersebut hanya untuk cari aman, tidak untuk bermain menyerang total, kurang agresif, dan tak sesuai dengan jiwa United. Apalagi pada pertandingan melawan Southampton di Old Trafford dimana United takluk 0-1, skuad Van Gaal tidak mampu mencatat satu shoot on target pun ke gawang The Saints. Lalu pada pertandingan berikutnya, bertandang ke QPR, Van Gaal masih keukeuh memakai 3-5-2, dan ditahan imbang 0-0 di babak pertama. Pada babak kedua, Van Gaal seakan mendengar desakan suporter, Neville, dan Scholes. Ia mengubah formasi menjadi 4-4-2 diamond, dan mampu memukul QPR 2-0. Van Gaal pun mulai memakai kembali 4-4-2 diamond pada pertandingan-pertandingan selanjutnya.
Pergantian 3-5-2 ke 4-4-2 diamond ditandai oleh gol Marouane Fellaini.
  • Suatu ketika, United tersingkir dari FA Cup setelah kalah dari Arsenal 1-2 di kandang sendiri. Van Gaal merasa formasi 4-4-2 diamond kurang memiliki keseimbangan yang baik, sehingga United mudah diserang oleh lawan. Ia pun langsung memodifikasi formasi empat bek tersebut menjadi 4-1-4-1. Hasilnya, United mampu menjungkalkan Tottenham 3-0, mempermalukan rival abadi mereka, Liverpool di Anfield 2-1, membungkam Aston Villa 3-1, dan memukul rival sekota mereka, Manchester City, pada derby Manchester di Old Trafford dengan skor 4-2. Formasi ini pun bertahan hingga akhir musim.
Juan Mata mencetak gol spektakuler di kandang Liverpool, saat United memakai 4-1-4-1.


       3. Berani menurunkan para pemain muda

Pada awal musimnya bersama United, Van Gaal langsung mendaratkan total 6 pemain baru untuk memperkuat skuad, yaitu Luke Shaw, Ander Herrera, Marcos Rojo, Angel Di Maria, Daley Blind, dan Radamel Falcao (status pinjaman).

Angel Di Maria, pembelian termahal Van Gaal seharga 59,7 juta Pounds yang memecahkan rekor di Inggris.

Hal itu memicu kekhawatiran beberapa pihak, seperti mantan asisten pelatih United pada era Ferguson, Mike Phelan, bahwa The Red Devils akan kehilangan identitas asli mereka dan jarang memainkan pemain-pemain muda. Hal tersebut terlihat saat Danny Welbeck, seorang pemain asli dari Manchester, dilego ke rival United, Arsenal.

Danny Welbeck harus hengkang ke Arsenal dengan harga 16 juta Pounds

Namun, seperti yang kita ketahui bersama, dari awal sosok Van Gaal memang merupakan pelatih yang sangat menyukai menurunkan pemain-pemain muda dan asli akademi di timnya, terutama pada saat ia melatih klub-klub besar.
  • Di Ajax, ia tidak ragu untuk menjadikan pemain-pemain asli dari akademi, yaitu Patrick Kluivert, Clarence Seedorf, Edwin van Der Sar, Frank dan Ronald De Boer, Edgar Davids, dan Michael Reiziger sebagai pemain penting bagi klub.
Starting XI Ajax saat final Champions League 1995. Penuh dengan pemain akademi
  • Saat melatih Barcelona, ia tak ragu untuk memberikan debut kepada Carles Puyol, Xavi Hernandez, Andres Iniesta, dan Victor Valdes. Kelak, mereka menjadi pemain krusial yang membantu Azulgrana meraih berbagai macam trofi, seperti La Liga, Copa Del Rey, Champions League, dan sebagainya. Kuartet ini juga menjadi tulang punggung timnas Spanyol yang menjuarai Piala Dunia 2010, dan EURO 2008 dan 2012.
Puyol, Xavi, Valdes, dan Iniesta bersama trofi Copa Del Rey, Champions League, dan La Liga.
  • Pun pada saat ia menukangi Bayern Munich. Thomas Muller, Holger Badstuber, Toni Kroos, dan David Alaba merupakan pemain-pemain muda yang diberi kepercayaan oleh Van Gaal untuk menjadi pemain inti Die Roten. Sekarang, mereka telah menjadi pemain kelas dunia dan menjadi komponen inti di klub dan timnas masing-masing.
Muller dan Kroos, menjadi andalan di timnas Jerman
  • Bahkan saat menjadi pelatih tim nasional Belanda tahun 2012 sampai 2014, ia berani menyingkirkan banyak pemain-pemain tua untuk digantikan nama-nama baru seperti Daley Blind, Jasper Cillesen, Stefan De Vrij, Bruno Martins Indi, Memphis Depay, Daryl Janmaat, dan lain-lain. Para pemain ini pun turut sukses membawa De Oranje menjadi peringkat ketiga pada Piala Dunia 2014 di Brazil.
Starting line up Belanda saat membantai Spanyol 5-1 di Piala Dunia 2014

Hal ini ternyata diulangi di tim barunya, Manchester United. Di tengah skuad tim utama yang sesak ditambah dengan enam pemain barunya, Van Gaal justru telah memberikan debut bagi para pemain muda dari akademi United.
Yang paling sering didengar tentu adalah Paddy McNair dan Tyler Blackett. Kedua bek tengah ini sering diturunkan di posisi sentral pertahanan United, bersama dengan Chris Smalling, Phil Jones, dan Marcos Rojo yang lebih senior.
Paddy McNair, pemain yang memulai debut saat United menjamu West Ham
Striker muda James Wilson pun terkadang diturunkan untuk mengisi sektor depan. Wilson bahkan pernah dijadikan starter mendampingi Robin van Persie saat United menjamu Liverpool, menyingkirkan nama mentereng Radamel Falcao yang harus duduk di bench.
James Wilson setelah mencetak gol melawan QPR pada ajang EPL
Nama-nama seperti Andreas Pereira, Jesse Lingard, Tom Thorpe, Saidi Janko, dan Reece James juga pernah mencicipi rasanya diturunkan di tim utama dibawah Van Gaal pada musim 2014-2015.
Andreas Pereira (kanan), pemain muda potensial milik United dari Brazil

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Lantas, dengan ketiga filosofi diatas yang diterapkan Van Gaal pada United, pada akhirnya Manchester United mengakhiri EPL dengan berada di posisi 4, yang artinya lolos ke Champions League musim depan. Hal ini lebih baik dibandingkan capaian Moyes menghancurkan The Red Devils sehingga terperosok ke peringkat 7. Namun, bagi sebagian pihak, capaian Van Gaal di musim pertamanya ini belumlah cukup. Apalagi, United gagal meraih satu trofi-pun di musim 2014-2015.
Louis Van Gaal memberikan pidato saat pertandingan kandang terakhir musim 2014-2015
Apakah Manchester United akan meraih gelar juara pada musim 2015-2016? Louis Van Gaal berharap dengan filosofi yang telah diterapkan selama semusim penuh, para pemain dapat memahami dan menjalankannya dengan baik. Ia percaya jika para pemain dapat sepenuhnya bermain dengan filosofinya di setiap pertandingan, trofi-trofi akan datang dengan sendirinya.

Van Gaal juga akan memanfaatkan transfer window yang sedang berlangsung untuk memperkuat skuad. Sejauh ini, tidak tanggung-tanggung ia telah mendapatkan wonder kid Belanda dari PSV Eindhoven Memphis Depay, ikon Bayern Munich dan timnas Jerman Bastian Schweinsteiger, bek kanan andalan timnas Italia dan Torino Matteo Darmian, dan gelandang jangkar timnas Prancis dan Southampton Morgan Schneiderlin. Mungkin hingga saat ini Van Gaal juga sedang memantau beberapa pemain yang diinginkannya untuk direkrut. Kita tunggu saja pergerakannya pada bursa transfer.

Wayne Rooney, tentu ingin mengangkat trofi pertamanya sebagai kapten baru Manchester United

Apapun hal yang dilakukan sang meneer Van Gaal, yang jelas para suporter Manchester United telah merindukan gelar juara yang banyak diraih pada saat kepemimpinan Sir Alex Ferguson.
Van Gaal berharap momen seperti ini terulang di Manchester United, demikian pula suporter United






Friday, April 26, 2013

Manchester United's Top 5 Key Players This Season

Memang EPL musim 2012/2013 masih bersisa empat pertandingan lagi. Tetapi tim favorit saya, Manchester United sudah memastikan diri menjadi juara di musim ini, sekaligus menggenapkan gelar juara Liga Inggris menjadi 20 kali (dalam format EPL sebanyak 13 kali). United berhasil memastikan trofi EPL kembali ke Old Trafford setelah melumat Aston Villa 3-0 pada senin (22/04) malam waktu setempat, membuat poin yang dikumpulkan The Red Devils tidak mampu dikejar lagi oleh tim terdekat, yang merupakan rival sekota sekaligus juara bertahan, Manchester City yang pada hari minggu (21/04) kemarin ditundukkan tuan rumah Tottenham Hotspur 3-1 setelah sempat memimpin dari menit ke 5 sampai menit ke 75.






Keberhasilan anak asuh Sir Alex Ferguson menjuarai EPL musim ini selain berkat kepemimpinan Fergie sendiri yang berpengalaman dan haus gelar, juga tidak lepas dari peran dan usaha para pemainnya, yang dengan mental juaranya telah bekerja keras sepanjang musim untuk merebut kembali trofi Liga Inggris yang sempat singgah untuk sementara waktu di Etihad Stadium, setelah City menjuarainya musim lalu melalui keunggulan agregat gol saja - well, dimana proses mereka meraih gelar sangat menyakitkan. Di bawah ini saya akan membahas 5 pemain United yang menurut saya memainkan peranan penting dan menjadi key player musim ini dalam membawa skuad United berjaya di liga kasta tertinggi di Inggris, tanpa meremehkan peran dan usaha pemain-pemain lain. 5 pemain kunci tersebut antara lain:

1. Robin van Persie


Sudah bisa ditebak pasti ia ada di list ini. Di awal musim, hampir semua orang, termasuk saya, tidak pernah menyangka bahwa Fergie berhasil membujuk Arsene Wenger untuk melepas seorang Robin van Persie, pemain kunci dari salah satu rival United, Arsenal yang musim lalu tampil cemerlang seakan menopang Arsenal sendirian dengan 30 golnya di EPL, dengan harga 24 juta poundsterling. Banyak yang mempertanyakan apakah ia bisa tampil segemilang musim lalu, apalagi sebelum hijrah ke Old Trafford ex pemain Feyenoord ini sempat gagal membawa Belanda lolos grup di ajang Euro 2012. Tetapi, keputusan Fergie ternyata sangat tepat. Tansfer yang cukup beresiko untuk pemain berusia 29 tahun yang rentan cedera ini dibayar kontan oleh van Persie sendiri melalui penampilan gemilang yang membawa United melaju menjauhi rival-rivalnya. RvP adalah striker berkelas, tajam dan mematikan di depan gawang, serta kerap menjadi penentu United meraih kemenangan di EPL. Hattrick ke gawang Villa senin kemarin, free-kick ke gawang City saat derby di Eastlands saat injury time, gebrakan di menit-menit awal di Stamford Bridge, serta aksinya menyelamatkan anak asuh Fergie di kandang Southampton dengan trigolnya adalah beberapa bukti keganasan The Flying Dutchman. RvP adalah alasan utama United bisa unggul poin jauh di atas City dan rival-rival lain. Sejauh ini di pekan ke-34 RvP memimpin daftar topskor EPL musim ini dengan 24 gol dan berpeluang besar menyabet Golden Boot, serta menjadi kandidat terkuat peraih PFA Player of The Year tahun ini.

2. Michael Carrick


Jika van Persie adalah alasan United dapat unggul jauh di puncak meninggalkan rival-rivalnya dibawah, maka Michael Carrick adalah alasan mengapa United bisa konsisten berada di puncak. Carrick hampir selalu muncul di starting XI United tiap pertandingan, menunjukkan betapa vital perannya di dalam permainan United. Ia adalah playmaker dan nyawa baru Ferguson's Red Army musim ini menggantikan peran Paul Scholes yang bermain cemerlang setelah kembali dari masa pensiun pertengahan musim lalu. Carrick memang tidak menampilkan skill mengolah bola tingkat tinggi layaknya Cristiano Ronaldo ataupun Zinedine Zidane, ataupun tajam di depan gawang seperti van Persie. Tetapi pemain berusia 33 tahun ini memiliki kemampuan yang mumpuni dalam mengatur irama permainan, membuka pertahanan lawan dengan umpannya baik lambung maupun terobosan, meng-intercept passing lawan, dan memiliki ketenangan saat membawa bola. Rasio akurasi umpannya pun mencengangkan, dan termasuk salah satu yang terbaik di liga-liga top Eropa. Diakui oleh beberapa pihak bahwa musim ini menjadi musim terbaik dirinya bersama United. Beberapa musim lalu kadang performa Carrick tidak terlalu mendapatkan apresiasi dari publik (underrated), tetapi musim ini ia menunjukkan bahwa dirinya dapat menjadi key player United dalam merebut gelar Liga Inggris ke-20, hingga akhirnya menjadi salah satu kandidat peraih PFA Player of The Year musim ini. Ex punggawa Tottenham Hotspurs dan Westham United ini pun mendapat pengakuan berupa chant baru dari para suporter United atau Red Army: "It's Carrick you know.. Hard to believe it's not Scholes!!"


3. David De Gea


Musim ini menjadi ajang pembuktian David De Gea bahwa ia adalah sosok yang tepat di bawah mistar gawang United dan pantas mengenakan jersey nomor satu. De Gea semakin tenang, matang, konsisten, dan percaya diri menyelamatkan The Red Devils dari kebobolan seiring berjalannya waktu. Pemain kelahiran Madrid, 7 November 1990 ini sering menampilkan skill-nya menjaga gawang - terutama dalam shoot stopping dan refleknya - yang semakin berkembang, seperti yang terlihat saat melawan Everton di partai pembuka musim ini, partai tandang melawan Real Madrid di Liga Champions, dan di banyak pertandingan yang lain. Kelemahan-kelemahannya musim lalu yang sering disorot, seperti koordinasi pertahanan dengan bek didepannya dan antisipasi bola-bola atas, perlahan-lahan mulai sirna musim ini. Lini belakang United kini tak perlu cemas lagi jika dilewati pemain lawan, karena mantan kiper Atletico Madrid tersebut sudah siap berada di bawah mistar gawang untuk mementahkan peluang lawan. Pasca natal 2012, De Gea mulai tampil sebagai pilihan pertama yang jarang dirotasi dengan kiper United lain, Anders Lindegaard, serta telah menorehkan 10 kali clean sheet, yang menunjukkan peningkatan performanya musim ini. Ia diyakini bakal melanjutkan tradisi United yang selalu mempunyai kiper hebat setelah era Edwin van der Sar dan Peter Schmeichel, sekaligus menjadi pengganti yang pas untuk Iker Casillas di timnas Spanyol kelak saat kiper Real Madrid tersebut pensiun atau tidak dipanggil ke La Furia Roja lagi.

4. Rio Ferdinand


Karirernya memang sering dianggap sudah habis karena termakan umur oleh beberapa pengamat. Kenyataannya, Rio Ferdinand malah menjadi andalan utama lini pertahanan United musim ini. Justru penampilannya diatas lapangan akhir-akhir ini dalam menghalau serangan lawan disebut-sebut kembali berkibar seperti pada masa mudanya. Sampai pada pekan ke-34, Rio sudah turun sebanyak 25 kali, jumlah yang membuat dirinya menjadi bek tengah United yang paling sering tampil di EPL. Saat bek-bek lain seperti Nemanja Vidic, Jonny Evans, Chris Smalling, dan Phil Jones silih berganti menepi dari rumput hijau akibat cedera, ex pemain Leeds United berusia 35 tahun ini tetap konsisten dengan terus tampil di atas lapangan. Ketenangan dalam mengawal pertahanan, komando ke rekan-rekan di daerah pertahanan, serta kemampuan membaca permainan dan pergerakan lawan membuat pertahanan Ferguson's Red Army terlihat kokoh. Walaupun ia bukan kapten United saat ini, jiwa kepemimpinannya terlihat di setiap pertandingan yang dijalaninya saat ia mengatur jantung pertahanan The Red Devils dalam mementahkan usaha lawan mencetak gol.

5. Rafael da Silva


Mungkin musim ini adalah musim terbaik Rafael da Silva sejauh ini bersama United. Dulu ia dikenal sebagai full-back kanan yang sangat meledak-ledak, emosional, dan agresif dalam membantu serangan tetapi sering kali terlambat turun ke pertahanan sendiri saat diserang balik. Kini Rafael sudah berbeda. Kembaran Fabio da Silva ini sudah lebih dewasa, tenang saat turun ke lapangan, dan telah meminimalisir kesalaha-kesalahan yang bisa saja terjadi. Pemain asal Brazil ini pun telah membuat opsi serangan sayap yang berbahaya dan variatif dari sisi kanan United, bahu-membahu bersama winger The Red Devils, Antonio Valencia. Ia hanya kalah dari Patrice Evra dalam statistik bek United yang paling sering tampil di EPL, dengan 26 kali tampil - mengungguli Rio Ferdinand. Rafael pernah mencetak gol indah saat menghadapi tuan rumah Queens Park Rangers. Ia menghajar bola dari luar kotak penalti hasil buangan bek lawan dari jarak 28,5 dari gawang lawan, dan si kulit bundar pun melaju kencang merobek jala Julio Cesar, yang hanya mampu tercengang. Dan faktanya, fierce shot Rafael tersebut memiliki kecepatan 77 mil/jam atau 123 km/jam. Rafael masih berusia 22 tahun, yang berarti ia masih bisa berkembang menjadi bek kanan terbaik di dunia - dan kariernya sudah berada di jalur yang tepat untuk itu.

Sekian ulasan saya. Saya tegaskan kembali bahwa list ini dibuat tanpa maksud mengecilkan kontribusi pemain United yang lain yang juga tidak kalah besarnya, seperti Wayne Rooney, Patrice Evra, Nemanja Vidic, Ryan Giggs, Javier "Chicharito" Hernandez, dan lain sebagainya. Sekali lagi selamat untuk Manchester United yang semakin mengukuhkan diri sebagai The King of England dengan 20 gelar Liga Inggris!!

20 Times and That's a Fact!!!

We Love United We Do!!!
We Love United We Do!!!
We Love United We Do!!!
Ohh, United We Love You!!!

Saturday, April 20, 2013

7 (+ 3) Goalkeepers who Inspire Me

Setelah sebelumnya pernah mengulas tentang seni menjaga gawang, di kesempatan kali ini saya akan mencoba memposting tentang kiper-kiper favorit saya, yang juga menginspirasi saya dalam menggeluti hobby saya, yaitu bermain futsal. Akan ada tujuh penjaga gawang internasional yang termasuk dalam kategori world class goalkeeper, plus tiga yang berasal dari negeri sendiri. Here we go..


1. David De Gea



Datang dari Atletico Madrid tahun 2011, De Gea mengemban sebuah misi dengan beban yang teramat berat, yaitu meneruskan kiprah Edwin van der Sar di mistar gawang Manchester United yang penuh dengan kesuksesan, rekor, dan gelar. Di tengah cemoohan orang banyak saat ia memulai musim dengan mengecewakan, - beberapa kali melakukan blunder, tidak terbiasa dengan permainan keras EPL, hingga cemoohan tentang badannya yang kurus - saya tetap percaya dengan De Gea, dan menganggap hal tersebut sebagai bagian dari proses adaptasi dan jalan terjal menuju penampilan yang lebih baik. Dan ia berhasil menjawab tantangan tersebut serta menutup mulut para pencibirnya dengan performa yang semakin hari semakin meningkat. Reflek dan shoot-stopping menjadi kekuatan utamanya, meski dia masih harus meningkatkan kemampuannya dalam mengkomandoi lini pertahanan serta menghadapi umpan-umpan silang. Body nya pun makin terlihat berisi dan siap untuk berduel di udara dengan lawan. De Gea juga mulai diproyeksikan sebagai kiper masa depan tim nasional senior Spanyol, menggantikan peran Iker Casillas.


2. Iker Casillas



Ialah sang pengangkat trofi Piala Dunia 2010 dan Euro 2008 serta 2012, juga penghargaan individual berupa Golden Gloves di Piala Dunia 2010. Sosok yang tidak tergantikan, baik di klubnya, Real Madrid, maupun di tim nasional Spanyol. Hampir semua orang menyebutnya sebagai kiper nomor satu di dunia saat ini. Kemampuan menjaga gawang Iker Casillas yang nyaris sempurna dan merata di semua aspek, didukung pula oleh pengalamannya yang banyak, mental juara, dan jiwa kepemimpinannya yang kuat. Tak heran jika Santo Iker didaulat sebagai kapten Madrid dan timnas Spanyol. Ia adalah panutan yang baik untuk anggota tim sendiri maupun pemain-pemain lawan. Sudah banyak gelar yang ia peroleh, baik untuk individu maupun dengan timnya. Casillas juga didaulat sebagai jagoan adu penalti, karena sering sekali ia menjadi penyelamat dan penentu dari timnya jika mendapat hukuman tendangan dua belas pas atau harus melalui babak tos-tosan di sebuah turnamen, seperti pada perempatfinal Euro 2008 dan semifinal Euro 2012.


3. Edwin Van Der Sar



Tua-tua keladi, makin tua makin jadi. Usia boleh sudah menginjak kepala empat, tetapi bukan menjadi masalah bagi Edwin Van Der Sar untuk menunjukkan kemampuan istimewanya sebagai penjaga gawang. The Flying Dutchman memiliki rekor clean sheet terlama di EPL, yaitu dengan 1.311 menit, pada musim 2008-2009. Van Der Sar juga menjadi penentu kemenangan Manchester United di final Liga Champions 2007/2008 melawan Chelsea saat menepis tendangan Nicolas Anelka saat babak adu penalti. Ia memiliki sesuatu yang membuat gawang yang dijaganya terasa aman, yaitu dengan ketenangannya dan koordinasi pertahanan dengan bek yang baik. Pengalaman serta jam terbang yang tinggi membuat kemampuan menjaga gawang Van Der Sar yang menjadi semakin lengkap. Mantan pemain Juventus dan Fulham ini menutup karier sepakbolanya di United pada umur 41 tahun setelah final Liga Champions musim 2010-2011 melawan FC Barcelona,. Sayangnya ia harus terpaksa memungut bola dari gawangnya tiga kali dan kalah dengan skor 1-3.


4. Peter Schmeichel



Tinta emas telah ia torehkan di sepanjang kariernya sebagai pemain sepakbola. Skill menjaga gawang yang luar biasa miliknya dilengkapi oleh perawakan tinggi besarnya yang seolah-olah menutupi seluruh gawang dan mampu mengintimidasi lawan saat terjadi situasi one-on-one dengan dirinya. Karena tubuhnya yang menjulang juga ia sangat handal dalam mengantisipasi bola-bola atas dari lawan. Dengan ukuran badan yang super - konon jersey yang dipakainya berukuran XXXL - Peter Schmeichel adalah monster besar di garis terakhir pertahanan. Great Dane bisa dibilang sebagai salah satu kunci kejayaan Manchester United di era 1990-an, dimana ia bersama The Red Devils merengkuh berbagai macam gelar, termasuk treble winners (juara EPL, FA Cup, dan Liga Champions) pada musim 1998/1999. Salah satu aksi yang akan diingat terus adalah saat di final Liga Champions tahun 1999 melawan Bayern Muenchen. Di saat posisi tertinggal, United mendapatkan corner kick di masa injury time. Schmeichel memutuskan maju ke depan membantu penyerangan dan berhasil membuat pertahanan The Bavarians kehilangan konsentrasi, hingga akhirnya Teddy Sheringham berhasil menceploskan bola ke gawang Oliver Kahn. Red Devils pun berhasil comeback dan mempercundangi Muenchen dengan skor 2-1.


5. Joe Hart



Joe Hart telah menjadi salah satu faktor keberhasilan dari kekuatan baru City yang berusaha menguasai Inggris, dan dibuktikan dengan gelar juara FA Cup di musim 2010/2011, dan EPL semusim setelahnya. Pertahanan The Citizens terlihat lebih kuat ketika ia berada di bawah mistar gawang dengan aksi-aksi heroiknya menahan tembakan dari lawan. Hart juga menjadi harapan di skuad tim nasional Inggris. Ia menjadi sebuah penemuan berharga disana, yaitu seorang kiper nomor satu The Three Lions pertama yang memiliki talenta dan berkelas dunia yang sempat terputus setelah eranya David Seaman. Jika Hart berhasil menorehkan prestasi bersama timnas Inggris, mungkin ia akan disejajarkan dengan Gordon Banks, Peter Shilton, dan Seaman.


6. Gianluigi Buffon



Italia memang tidak pernah kehabisan sumber daya manusia berupa kiper handal. Mulai dari eranya Dino Zoff, Walter Zenga, Gianluca Pagliuca, hingga sekarang, yaitu era kejayaan Gianluigi Buffon. Perannya di Juventus dan tim nasional Italia memang belum ada penerusnya yang sepadan untuk menggantikannya. Sama seperti Casillas, Buffon juga menjabat sebagai kapten tim, baik di La Vecchia Signora maupun di Gli Azzurri, berkat watak kepemimpinannya yang kuat serta mampu memotivasi rekan-rekan setimnya agar lebih bersemangat lagi dalam bertanding. Tiga gelar juara Serie-A serta trofi Piala Dunia 2006 menjadi bukti kehebatannya dalam menjaga gawang. Satu lagi yang saya kagumi dari Buffon adalah totalitasnya kepada klub dengan segala kondisi yang terjadi. Disaat Juventus mendapat hukuman turun kasta ke Serie-B pada musim 2006/2007, ia tidak bergeming ketika ditawar oleh banyak klub besar dan tetap menetap di Turin untuk membawa kembali Juventus ke Serie-A untuk musim depannya.

7. Manuel Neuer



Pada suatu hari di pagi buta, saya tengah menyaksikan partai semifinal leg pertama Liga Champions musim 2010/2011 antara Manchester United melawan tuan rumah Schalke 04. Saya sebelumnya sering mendengar nama Manuel Neuer sebagai kiper muda berbakat yang potensial, tetapi saya belum sering melihatnya bermain, mungkin hanya pada saat Piala Dunia 2010 saja saya cukup sering menontonnya. Dan omongan orang-orang yang mengagumi kemampuannya itu benar adanya. Berkali-kali United menggempur pertahanan Schalke, semua mentah berkat ketangguhan Neuer. Walaupun akhirnya Red Devils berhasil mengemas kemenangan 2-0, tetapi tidak terbayangkan berapa gol yang akan tercipta jika bukan Neuer yang berada di bawah mistar. Perawakan dan kemampuannya mirip dengan Peter Schmeichel. Sama-sama berbadan besar, mampu mengintimidasi lawan, tangguh saat one-on-one, dan handal dalam duel-duel udara. Setelah pindah ke Bayern Muenchen skillnya bertambah dengan pesat, dan dianggap sebagai salah satu kiper terbaik di dunia, serta penerus era kejayaan Oliver Kahn di tim nasional Jerman.


+1. Hendro Kartiko


Tubuhnya boleh kecil, tetapi Hendro Kartiko merupakan salah satu kiper legenda di Indonesia dan pernah menyandang jersey nomor satu di tim Garuda pada medio 2000-an awal. Postur tubuh dan gayanya yang eksentrik mengingatkan kita kepada sosok kiper legendaris Prancis, Fabien Barthez. Reflek yang sigap menjadi salah satu senjata andalan pemain yang pernah membela tim-tim besar di Indonesia seperti Persebaya Surabaya, Persija Jakarta, dan Arema Malang ini.


+2. Ferry Rotinsulu


Salah satu hal yang sangat saya sayangkan terhadap Ferry Rotinsulu adalah ia jarang mendapatkan kesempatan di timnas Indonesia, yang lebih mempercayai gawang di tangan Markus Horizon ketika itu. Padahal, kiper utama Sriwijaya FC ini tidak kalah dalam hal kemampuannya menjaga gawang. Nilai plus yang dimilikinya adalah ia piawai dalam menghalau tendangan penalti dari lawan. Berkali-kali Laskar Wong Kito menghadapi penalti, disaat itu juga Ferry muncul sebagai pahlawan dan menyelamatkan Sriwijaya FC.


+3. Kurnia Meiga



Dengan umurnya yang masih terbilang muda, 23 tahun, Kurnia Meiga adalah harapan tim nasional Indonesia di masa depan. Bisa dibilang ia adalah kiper terbaik Indonesia sekarang dan untuk masa depan. Pemain terbaik Indonesian Super League musim 2009/2010 ini sekarang telah merebut posisi kiper di timnas Indonesia. Dengan talenta menjaga gawang yang lengkap, mumpuni dan masih bisa berkembang lagi, saya berani menilai kiper utama Arema Malang ini akan memakai jersey nomor satu tim Garuda dalam waktu yang cukup lama.

Sekian postingan saya kali ini! Cheers!